SEBATIK DI ANTARA DUA PILIHAN : BERTANDING ATAU BERSANDING

Saya mencoba melihat Sebatik sebagai orang Sebatik. Bukan hanya sebagai seseorang yang mendapat tugas dan penempatan di pulau Sebatik. Saya punya alasan untuk mengatakan bahwa saya adalah orang Sebatik. Pertama ; sejak saya ditugaskan di pulau Sebatik lima tahun lalu, maka domisili kependudukan saya juga telah saya alihkan menjadi penduduk Sebatik. Kedua, alhamdulillah, atas berkat izin yang Maha Pemurah, saat ini, saya telah memiliki sebuah gubuk yang saya tempati bersama keluarga kecil saya di pulau ini sekaligus menandai berakhirnnya masa keemasan saya sebagai kontraktor, alias tukang kontrak rumah. Ketiga, sejak saya ditugaskan di sini, hampir semua fikiran dan tenaga saya selama ini telah saya curahkan untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat di pulau ini.

***

Tadinya, saya selalu berfikir bagaimana Sebatik Indonesia agar dapat dibangun dan dikembangkan sebagai wajah negara yang jauh lebih baik dari wajah negara tetangga, Tawau Sabah Malaysia. Saya berfikir, dan tidak sedikit yang sepemikiran dengan saya, bahwa Tawau adalah kompetitior Sebatik, dan Sebatik sedang bertanding dan bersaing dengan kota tersebut dalam memajukan pembangunan dan kesejahteraan bagi warganya. Pokoknya, Sebatik harus keluar sebagai pemenang dalam persaingan ini. Pemikiran yang saya miliki dan dimiliki oleh sebagian besar msayarakat Sebatik ini, tidak dapat dilepaskan dari rasa kekecewaan sebagian besar masyarakat Sebatik sendiri, setelah mencermati minimnya sarana dan prasarana serta infrastruktur pelayanan dasar yang ada di pulau ini. Belum lagi, perekonomian masyarakat Sebatik yang sangat tergantung dengan bandar Tawau Sabah. Tapi yang terakhir ini, tidak akan saya bahas. Hal tersebut, telah banyak ditulis oleh para pemikir dan pengamat, bahkan didiskusikan oleh masyarakat Sebatik sendiri di warung-warung kopi. Hal ini kontras dengan apa yang mereka dapat saksikan di salah satu kota terdekat, Tawau. Di sana, infrastruktur dasar dan sarana dan prasarana publik tidak menjadi masalah lagi. Bahkan boleh dikata, Tawau saat ini sedang berkembang ke arah kota perdagangan antar negara.

Satu-satunya basis pemikiran saya yang tidak bergeming dalam memandang Sebatik adalah terkait pandangan saya bahwa masyarakat Sebatik harus menjadi masyarakat mandiri atau jauh lebih mandiri dari sekarang. Tapi ingat, mandiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Mandiri dalam konteks Sebatik, adalah mandiri untuk membuat keputusan-keputusan sendiri tentang apa yang harus dibangun, mandiri untuk menentukan komoditas apa yang dapat dikembangkan dan kemana komoditas pertanian dan perikanan dapat dijual, lebih punya daya tawar untuk menentukan harga, dan mungkin lebih memiliki aneka pilihan kebutuhan pokok yang dapat dikonsumsi.

Mandiri dalam konteks pemikiran di atas, tidak mengabaikan mitra dan jaringan lama, tapi menambah mitra dan jaringan baru sehingga pilihan yang ada lebih beraneka. Hipotesis saya, kemajuan dan kemandirian masyarakat Sebatik tidak mungkin tanpa mengggandeng masyarakat dan negara tetangga kita. Selain karena hubungan tradisional, tidak sedikit masyarakat kedua negara yang terkait dengan hubungan pertalian darah, entah karena perkawinan, atau karena peralihan kewarganegaraan (naturalisasi) salah satu anggota keluarga.

Menurut saya, melihat Tawau Sabah sebagai pesaing dapat berdampak positif, dengan syarat pandangan ini dijadikan sebagai pemacu dan motivasiuntuk menumbuhkan semangat dan kerja keras masyarakat Sebatik dan Pemerintah Indonesia untuk membawa Sebatik lebih maju. Namun dapat terjadi sebaliknya, jika dimaknai secara emosional atau berfikir menang-kalah. Pandangan kedua ini memandang bahwa Sebatik baru dapat dikatakan lebih baik alias menang jika lawan atau pesaing yakni Tawau Sabah dapat dikalahkan (zero-sum-game). Sebatik Indonesia dapat dikatakan lebih baik dan lebih maju, jika sarana dan prasarana serta infrastrukturnya telah melampaui Tawau Sabah.

Untuk menghindari pemahaman fatal seperti pandangan kedua di atas, saya mencoba menemukan satu kata kunci. Kata kunci yang saya maksud adalah bahwa kemajuan dan kemandirian masyarakat Sebatik Indonesia tidak mungkin tanpa menyertakan masyarakat Malaysia, dan saya yakin demikian pula sebaliknya.

Jika kata kunci ini dipegang dan disepakati, maka akan muncul alternatif jalan tengah, kedua belah pihak justeru harus lebih meningkatkan hubungan kerjasama yang telah ada. Untuk sisi masyarakat Sebatik Indonesia, hubungan kerjasama ini harus dapat yang menempatkan posisi dan daya tawar masyarakat Sebatik Indonesia menjadi lebih sejajar dengan mereka (Tawau Malaysia). Jika pandangan ini dipegang, maka pandangan ekstrim di atas akan bergeser ke pandangan yang lebih moderat; dari hubungan yang diwarnai dengan semangat persaingan alias bertanding ke hubungan persahabatan dan kerjasama yang lebih erat alias bersanding. Saya yakin, dari Sebatik, model kerjasama itu dapat diwujudkan.

Dari mana langkah kerja sama yang lebih sejajar ini dimulai? Menurut saya, dapat dimulai dari beberapa aspek. Salah satunya akan saya tawarkan dalam tulisan ini.

***

Beberapa hari yang lalu, saya ditelepon oleh salah seorang rekan di salah satu SKPD yang menangani masalah perbatasan. Menurutnya, dalam waktu dekat, sejumlah pejabat dari Sabah Malaysia akan melakukan kunjungan ke Sebatik Indonesia. Kunjungan ini, menurutnya lagi, dalam rangka mengkonfirmasi laporan tentang adanya warga Sebatik Malaysia yang berobat ke Pusat Layanan Kesehatan (Puskesmas) yang ada perbatasan Indonesia-Malaysia di pulau Sebatik. Saya diminta hadir dan bahkan diminta beberapa bantuan untuk menjembatani kunjungan tersebut.

Saya langsung teringat pertemuan saya dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan beberapa waktu yang lalu. Kepala Dinas pernah membisikkan ke telinga saya bahwa counterpart-nya di Malaysia kelihatannya mulai tertarik mempertimbangkan peluang kerjasasam bidang kesehatan antar kedua negara di pulau Sebatik. Indikasi tersebut dilihatnya pasca mengikuti pertemuan Kerjasama Sosial Ekonomi Malaysia Indonesia (Sosek Malindo) yang diikutinya. Seusai pertemuan, salah satu pejabat daerah dari Tawau (semacam walikota) terus menggali dan mendalami informasi yang didengarnya terkait adanya warga Malaysia yang berobat ke Indonesia di pulau Sebatik. Bahkan perjabat tersebut, menurut Kepala Dinas Kesehatan lagi, sempat menawarkan beberapa alternatif kerjasama pelayanan bidang kesehatan di pulau Sebatik.

Saya katakan, jika benar demikian, maka hal tersebut merupakan langkah maju, dan harus ditangkap oleh pihak Indonesia. Atas sinyal tersebut, maka saya dan Kepala Dinas Kesehatan atas kerjasama yang baik dari Pimpinan Sekolah Tapal Batas kemudian sepakat untuk mempercepat pembentukan Pos Pelayanan Kesehatan Tapal Batas. Meminjam meminjam salah satu ruang yang ada di Sekolah Tapal Batas, tidak lama berselang setelah diskusi tersebut, Pos Pelayanan Kesehatan Tapal Batas resmi diresmikan oleh Bupati Nunukan, Drs. H. Basri, M.Si.

Ide ini sebenarnya telah lama digagas, namun terkatung-katung karena pertimbangan terbatasnya sumber daya aparatur di bidang kesehatan. Meskipun demikian, Bidan Suraidah, pimpinan Sekolah ini, telah merintis pelayanan kesehatan, khususnya untuk TKI, di perbatasan jauh sebelumnya. Apa yang dilakukan oleh Bidan Suraidah inilah sejatinya yang menjadi inspirasi munculnya gagasan pelayanan ini dan merupakan embrio dari Pos Pelayanan Kesehatan Tapal Batas ini.

Seperti apa bentu kerjasamanya? Bukan itu yang menjadi poin saya. Instansi terkaitlah yang paling ahli untuk membahas dan mengkonkritkan bentuk kerjasama tersebut dengan counterpart-nya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa menurut saya, kerjasama ini akan sangat menguntungkan kedua belah pihak. Saya berhayal dan berdoa, mudah-mudahan akan lahir sebuah bentuk kerjasama yang saling menguntungkan pada bidang kesehatan. Jika harapan dan hayalan ini dapat diwujudkan, maka kerjasama tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi mile stone untuk melangkah pada kerangka-kerangka kerjasama bidang lainnya, yang menempatkan kedua belah pihak lebih sejajar (equal).

Saya yakin, tidak terlalu banyak yang tahu, jika tidak semua perbatasan Malaysia itu maju dan jauh lebih mentereng dibanding perbatasan Indonesia. Maaf, jika saya kembali menulis sedikit tentang hal ini. Soalnya, seingat saya, saya telah berkali-kali mengangkat hal ini di forum-forum yang saya hadiri. Bahkan seingat saya lagi, saya juga telah berkali-kali menulis tentang hal ini. Namun,  apakah tulisan tersebut sempat saya unggah untuk menjadi diskursus ke media on linei atau masih menjadi konsumsi sendiri di ruang penyimpanan laptop saya, itu yang saya belum pasti alias lupa.

Saya tidak dapat menggambarkan tingkat kemajuan Sebatik wilayah Malaysia secara keseluruhan karena saya belum sempat menjelajahinya secara utuh. Saya akan menggambarkan beberapa segmen perbatasan Malaysia di pulau Sebatik yang pernah saya kunjungi saja. Saya pernah ke Kg. Pisa-Pisa dan sekitarnya dan bahkan diterima langsung oleh Kepala-Kepala Kampung di wilayah tersebut dengan penuh keramahan. Sebagai balasan, kami pernah mengundang mereka pada acara HUT RI di wilayah kami, dan di luar dugaan, mereka datang dalam jumlah yang cukup besar. Saya juga pernah masuk ke wilayah Kg. Limau dan beberapa bagian kecil dari Kg. Bergosong Besar di wilayah bagian Malaysia ini. Kesimpulan saya, Sebatik Indonesia jauh lebih pesat perkembangannya dibanding beberapa kampung yang saya sebutkan di atas, setidaknya untuk infrastruktur jalan, fasilitas pendidikan, dan juga kesehatan. Menurut warga kampung yang saya sebutkan di atas, jika akan melanjutkan pendidikan ke tingkat lanjutan, anak-anak mereka harus dikirim ke Tawau. Demikian juga jika mereka akan berobat, mereka juga harus ke Tawau. Di Sebatik yang saya kunjungi belum tersedia pendidikan tingkat lanjutan maupun sarana pelayanan kesehatan seperti yang dapat dijumpai di Sebatik Indonesia. Bahkan menurut keterangan Kepala Puskesmas Aji Kuning, memang terdapat warga Malaysia yang pernah berobat ke Puskesmas yang dipimpinnya.

Jika anda tidak maju, maka anda pasti berfikir untuk maju. Indikator kemajuan diukur dari beberapa aspek, salah satunya dari tingkat ketersediaan sarana dan prasarana serta infrastruktur pelayanan dasar. Dalam membangun suatu wilayah, dapat dilakukan sendiri, tapi lebih banyak dilakukan dengan bekerjasama dan menggandeng pihak lain. Hipotesa saya, membangun Sebatik, khsususnya bidang kesehatan, tidak dapat dilakukan sendiri, namun harus dilakukan bersama.

***

Kesehatan ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kesadaran masyarakatnya sendiri, maupun tingkat ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Anda tidak dapat mewujudkan masyarakat sehat, hanya dengan menyehatkan warga anda saja. Karena penyakit itu sendiri, khsusunya penyakit menular, dapat dibawa oleh manusia, maupun media lainnya, seperti hewan dan udara, dan anda tidak mungkin mampu mencegah hewan dan udara itu untuk tidak bergerak dan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, bahkan dari satu negara ke negara yang lain.

Pulau Sebatik adalah pulau dua negara yang dibatasi hanya dengan garis hayal. Di beberapa titik, terdapat patok-patok perbatasan yang mempertegas batas negara di pulau tersebut. Patok-patok yang berjarak 1,5 hingga 2 km tersebut sekaligus menjadi titik-titik yang menghubungkan garis hayal tersebut dari timur hingga ke barat pulau Sebatik.

Di pulau Sebatik, juga belum dibangun Pos Lintas Batas (PLB) resmi yang disepakati sebagai pintu keluar dan masuk kedua negara. Oleh sebab itu, masyarakat yang akan saling mengunjungi dengan berbagai alasan dan kepentingan dapat melewati perbatasan darat yang diinginkannya. Belum lagi, lapangan kerja yang cukup terbuka luas di wilayah Malaysia, menjadi magnet tersendiri bagi TKI dari seluruh nusantara untuk menjadikan Sebatik Malaysia sebagai salah satu tujuan untuk mengumpulkan  pundi-pundi ringgit yang menggiurkan itu. Tidak heran, perbatasan darat pulau Sebatik adalah salah satu pintu keluar masuk TKI illegal yang termasuk sulit untuk dikendalikan. Bukan hanya manusia, perbatasan darat pulau Sebatik juga menjadi pintu perpindahan barang-barang terlarang seperti narkoba.

***

Saya berharap, dengan sedikit penjelasan sebelumnya, pembaca telah dapat menangkap alasan yang mendorong saya berfikir bahwa persoalan yang ada di pulau Sebatik harus diselesaikan bersama dan melalui kerjasama kedua negara. Tapi ingat, kerjasama hanya bisa dilakukan jika kedua belah pihak fokus pada kesamaan-kesamaan tujuan dan kepentingan bersama kedua belah pihak yang ada dalam kerjasama tersebut. Kerjasama tidak mungkin terjalin secara baik dan harmonis jika yang dipertajam adalah perbededaan-perbedaan yang ada.

Saya ingin menggaris bawahi, bahwa kunjungan pejabat Malaysia ke Sebatik Indonesia untuk mendalami isu pelayanan kesehatan, adalah sinyal betapa pemerintah negara bagian tersebut menganggap penting dan berkepentingan membicarakan masalah ini. Tidak seperti kasus-kasus yang lain, di mana pihak kita yang lebih banyak merayu, kali ini mereka yang justeru proaktif dan progresif. Sekali lagi, kunjungan ini adalah momentum yang harus dimanfaatkan untuk mulai membicarakan dan membangun komitmen kerjasama yang lebih konkrit lagi. Kata kuncinya, kedua belah pihak harus mulai mengurangi egonya. Pemerintah kedua belah pihak harus mulai membangun kesadaran bersama tentang pentingnya mewujudkan kesejahteraan warga kedua negara yang ada di satu pulau tersebut.

Menurut saya, ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh oleh kedua belah pihak atas kerjasama di atas.

  1. Di atas kertas, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA/AEC) telah dimulai sejak awal tahun ini. MEA menurut saya, seharusnya ditandai dengan terjadinya arus perpindahan barang dan manusia yang lebih intens antar negara di kawasan Asia Tenggara. MEA adalah salah satu dari tiga pilar perwujudan Masyarakat ASEAN (Asean Community) 2020, selain Masyarakat Sosial-Budaya (Asesan Sosial-Cultural Community/ASC) dan Masyarakat Keamanan ASEAN (Asean Security Community/ASC). Saya sebenarnya kurang memahami, apakah ketiga pilar ini seharusnya diimplementasikan secara bertahap atau paralel.

Kerjasama bidang kesehatan adalah salah satu sub isu dalam Komunitas Sosial Budaya ASEAN. Namun khusus yang terkait dengan mobilitas tenaga profesional antar negara, maka perpindahan tenaga kesehatan seperti dokter juga masuk dalam skema pembentukan MEA Artinya, kerjasama ini nantinya merupakan salah satu pengejawantahan perwujudan Masyarakat Asean. Saya ingin mengatakan, bahwa kerjasama ini jelas payung hukum atau dasarnya, yaitu sedang memperkuat perwujudan Komunitas Asean (Asean Community) seperti yang sebutkan di atas.

  1. Kita ketahui, bahwa terjadi pelemahan ekonomi negara-negara di dunia, temasuk negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN). Hal tersebut dialami juga oleh Indonesia dan Malaysia. Gejolak politik yang terjadi akhir-akhir ini di Malaysia di bawah pemerintahan Perdana Menteri Dt. Najib Tun Razak, juga ditengarai dipicu oleh pelemahan perekonomian Malaysia. Saya tidak perlu bercerita tentang Indonesia, karena saya yakin pembaca lebih faham dari saya. Teorinya, jika kita mengalami keterbatasan sumber daya, maka salah satu alternatif solusinya, adalah memperkuat diri melalui kerjasama. Malaysia membutuhkan anggaran yang tidak sedikit untuk membangun wilayah Sebatik yang menjadi bagiannya, paling tidak seperti Sebatik Indonesia saat ini. Membiarkan Sebatik Malaysia tertinggal dan terisolasi seperti saat ini, tentu juga bukan pilihan kebijakan tanpa konsekwensi bagi negara tersebut. Demikian juga halnya yang ada di dalam kalkulasi pemimpin pemerintahan yang ada di Indonesia dalam melihat Sebatik Indonesia. Intinya, kedua negara harus melihat bahwa Sebatik yang tertinggal dan terbelakang, merupakan masalah bagi kedua negara. Di sinilah titik temu persamaan itu berada. Dari titik inilah komunikasi itu, menurut saya, menemukan alasan dan momentumnya.
  1. Seperti sekilas telah saya singgung di atas, penanganan masalah kesehatan akan efektif jika diselenggarakan secara integratif, partisipatif, lintas sektoral dan bahkan lintas negara. Mengingat tingginya dinamikan penduduk di pulau Sebatik, maka kerjasama bidang kesehatan antar negara di pulai ini sebaiknya jangan ditunda-tunda lagi. Payung hukum dan alasan pembenarnya telah cukup jelas di dua poin sebagaimana telah saya paparkan di atas.

Betapa tidak, seperti yang telah saya singgung di atas, perbatasan Indonesia dan Malaysia di pulau Sebatik berbeda karakteristiknya dengan perbatasan yang ada di tempat lain. Di sini, arus keluar masuk manusia cukup tinggi. Dengan demikian, kemungkinan perpindahan penyakit (khususnya penyakit menular) dari salah satu wilayah negara ke negara yang lainnya rentan terjadi, khususnya yang dibawa oleh manusia. Tentunya kedua belah pihak tidak ingin warganya terpapar terhadap berbagai potensi penyakit. Namun membatasi pergerakan manusia di perbatasan tersebut juga merupakan pilihan yang sulit mengingat tingginya saling ketergantungan kedua pihak di pulau ini. Yang dapat dilakukan, adalah mengurangi ekses yang diakibatkan dari tingginya intensitas pergerakan manusia di perbatasan kedua negara melalui kebijakan dan implementasi kebijakan layanan kesehatan yang harmonis, terstruktur, dan sistematis. Ini dapat dilakukan jika ada skema kerja sama yang baik antar kedua negara pada aspek ini.

  1. Kerjasama bidang kesehatan, memungkinkan kedua belah pihak untuk saling berbagi informasi terkait dengan isus-isu bidang kesehatan dan penangannya, dan bahkan dapat saling mengisi kekurangan dan keterbatasan masing-masing. Bagi pihak yang memiliki kemampuan pendanaan yang lebih baik, dapat membangun fasilitas dan sarprasnya, sedangkan pihak lainnya dapat memberikan dukungan berupa penyediaan tenaga medis dan atau paramedisnya. Dalam konteks MEA, pergerakan tenaga-tenaga profesional (free flows of skilled labour) antar negara seperti tenaga kesehatan (dokter) merupakan salah satu aspek yang dimungkinkan dan telah diatur.

Meski image terkait pelayanan kesehatan di Tawau Malaysia selama ini konon relatif lebih baik dari Indonesia, namun dari beberapa sumber yang dapat dipercaya, saya mendapatkan informasi bahwa hal tersebut tidaklah sepenuhnya benar, khususnya yang terkait dengan kuantitas dan kualitas tenaga medisnya. Sebagai contoh, untuk kasus-kasus penyakit atau tindakan yang membutuhkan sentuhan tenaga medis sekelas dokter spesialis (dokter pakar), Hospital Tawau, masih tergantung dengan dokter spesialis yang didatangkan dari Kota Kinabalu, ibu kota negara bagian Sabah.

Persoalan yang lebih memprihatinkan lagi, juga terjadi di wilayah Sebatik Malaysia. Menurut beberapa Kepala/Ketua Kampung yang pernah saya temui, tidak ada sarana dan prasarana kesehatan yang memadai di wilayah pulau Sebatik Malaysia. Jika mengalami gangguan kesehatan, paling tidak mereka harus ke Tawau yang berbeda daratan dengan Sebatik.

Sebaliknya, saya dapat memastikan bahwa tingkat ketersediaan dokter di Kabupaten Nunukan telah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Menurut data yang ada, saat ini terdapat belasan dokter spesialis di RSUD Nunukan, melampaui kebutuhan minimal RSU jika dilihat dari kelas Rumah Sakitnya saat ini. Kelebihan jumlah dokter spesialis ini bukan tidak mungkin menjadi alat justifikasi bagi tenaga-tenaga dokter spesialis tersebut untuk hengkang dari Kabupaten Nunukan dan mencari tempat pengabdian yang jauh lebih baik dan lebih menjanjikan. Justifikasi tersebut nanti semakin kuat, jika tunjangan kesejahteraan mereka dikurangi sejalan dengan makin melemahnya fiskal Kabupaten Nunukan. Harus difikirkan sebuah strategi atau cara untuk membuat mereka betah dan memperkecil peluang mereka untuk eksodus dari Kabupaten Nunukan.

Sekali lagi, kelebihan dan keunggulan pihak Indonesia di Nunukan/Sebatik, adalah di jumlah dan kualitas dokter yang dimilikinya. Dalam konteks MEA, pergerakan tenaga-tenaga profesional (free flows of skilled labour) antar negara seperti tenaga kesehatan (dokter) merupakan salah satu aspek yang dimungkinkan dan telah diatur. Ini lah yang harus “dijual” oleh pihak kita kepada pemerintah Sabah sehingga mereka lebih yakin akan kualitas kerjasama ini nantinya. Sebaliknya, dengan Malaysia mungkin dapat diminta untuk berkontribusi pada aspek lainnya. Sekali lagi,

***

Dalam hal penanganan masalah-masalah kesehatan di pulau Sebatik, kedua belah pihak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun banyaknya persamaan kepentingan pada aspek kesehatan di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di pulau Sebatik, meyakinkan saya bahwa kerjasama pada bidang ini lebih banyak manfaatnya dibanding mudharatnya untuk kedua negara. Tapi memang diperlukan kebesaran hati kedua belah pihak untuk dapat mewujudkan hal ini.

Semarang, 30 November 2016

Harman

0 Comments


Leave a reply

  • Sambutan Camat

    Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam Sejahtera untuk kita semua Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas perkenan-Nya sehingga Kecamatan Sebatik Tengah telah mampu memiliki website resminya sendiri. Terima Kasih setinggi-tingginya kepada Bupati Nunukan dan jajaran serta seluruh pihak yang telah membantu dan berkontribusi sehingga situs ini akhirnya || Selengkapnya

  • Sambutan Bupati

    SAMBUTAN BUPATI NUNUKAN DALAM RANGKA LAUNCHING WEBSITE KECAMATAN SEBATIK TENGAH KABUPATEN NUNUKAN SENIN, 26 JULI 2016 Assalamualaikum wr. wb. Salam sejahtera bagi kita semua Sebagai insan yang beriman, sudah selayaknya kita selalu bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat kesehatan, kecerdasan dan semangat untuk beraktivitas dan berkreatifitas sehingga kita dapat menghasilkan website || Selengkapnya

  • Alamat Kami

    JL. P. RAMLI RT 04 DUSUN MAIWA DESA MASPUL
    KECAMATAN SEBATIK TENGAH
    KABUPATEN NUNUKAN 77446
    telp. 0823 5264 4810